Lelaki itu membelah dadanya sendiri. Gila! Pisau itu benar-benar mengiris dadanya menjadi dua. Tak ada darah yang menetes. Hanya daging yang terbuka, hanya rusuk yang terbelah. Jantungnya nampak jelas. Berdenyut seolah tak terjadi apa-apa.

“Kuberikan jantungku bila itu yang kau mau,” ujar lelaki itu.

Perempuan di depannya bergeming. Tak nanti lelaki itu menyodorkan jantungnya pada perempuan itu. Jantung itu masih jua berdenyut. Makin kencang malah. Sepertinya ia tak rela lepas dari tuannya. Perempuan itu tersenyum sambil memasukkan jantung sang lelaki ke dalam peti.

“Kau juga harus meremukkan rusukmu, agar tak ada lagi yang tercipta darinya,” tukas perempuan itu.

Edan! Perempuan itu benar-benar sudah tak waras. Jantung telah didapat, masih jua menyuruh tindakan gila semacam itu. Namun, laki-laki itu lebih sinting. Ia benar-benar menghancurkan rusuknya. Tanpa erang, tanpa suara. Hanya gemeretak serpihan rusuk yang hancur menjadi debu. Lelaki itu lunglai. Sekejap tubuhnya ambruk mencium bumi. Tak berdaya.

Perempuan itu masih bergeming. Air mata meleleh dari sudut matanya yang lentik. Namun, mimik mukanya tak berubah. Tanpa ekspresi.

Perlahan ia mendekati tubuh lelaki yang hampir sekarat itu. Dipandanginya sebentar. Kemudian ia mencium bibir kekasihnya itu dan pergi begitu saja.

Tahun demi tahun berlalu, musim demi musim berganti. Tubuh lelaki itu masih tergeletak. Tak bergeser satu jengkal pun dari tempat ia ambruk. Semak-semak mulai menutupi sosoknya yang koyak. Bahkan hewan-hewan pun tak risih bersarang di dekatnya. Hingga suatu malam seekor kupu-kupu hinggap di wajahnya. Tiba-tiba saja lelaki itu mulai membuka mata. Perlahan matanya mengejap. Kupu-kupu itu kaget dan pergi. Lelaki itu mencoba bangkit. Namun, ia kembali ambruk. Dengan sisa tenaga ia mencoba bersila.

Kosong.

Ia sedikit linglung. Perlahan lelaki itu menata kembali ingatannya. Setelah benar-benar siuman, ia bangkit dan mencari pemukiman terdekat. Seolah tak terjadi apa-apa.

“Le, kapan menikah?” ujar seorang pria tua sambil melinting tembakau di tangannya.

Yang ditanya hanya tersenyum kecil.

“Sudah punya calon belum?”

Senyum.

“Kalau sama anak bapak mau tidak? urusan duit nggak usah dipikir.”

Tak ada jawaban. Lagi-lagi dibalas senyuman.

Tak satu atau dua kali ia ditanya seperti itu. Bahkan ada gadis yang terang-terangan menawarkan dirinya. Tapi ia tak jua menjawab. Hanya tersenyum. Tak menolak. Hanya tersenyum. Atau menerima. Semenjak kedatangannya, kampung menjadi lebih hidup. Ia tak banyak bicara tapi lakunya membuat banyak orang bercakap. Pasar kembali ramai, sawah menjadi permai. Orang-orang memanggilnya Le dari kata tole yang berarti bocah laki-laki. Karena sewaktu datang, ia tak ingat namanya dan linglung seperti bocah. Kini, bagi warga kampung, Le tak ubahnya matahari yang bersinar hangat.Namun, tidak soal asmara. Ia menebar rasa tapi tak mampu menuai hati. Segala daya asmara hampa tatkala memasuki hatinya. Tak menemukan apa-apa. Tak jua bisa singgah mesti seketika.

Begitu dingin. Beku. Mati.

Seolah ia tak memiliki hati, tak memunyai rasa.

Itulah dirinya. Seorang lelaki yang dikutuk tanpa rasa tanpa hati. Di dadanya ada bekas luka yang belum tertutup sempurna. Ia hanya bisa tersenyum soal asmara karena hanya itu yang masih bisa diingatnya. Tidak jua kecupan mesra, bukan pula cinta membara. Hanya senyum.

Sampai suatu ketika seseorang bertandang. Perawakannya tak terlalu tinggi, wajahnya bulat, kulitnya matang. Rambut hitamnya dibiarkan terurai menutup sebagian wajah. Jalannya tegap menantang.

“Kamu orang baru?”

Le mencoba ramah.

Sang perempuan tak menjawab, hanya tersenyum.

“Siapa namamu?”

Perempuan itu masih membisu. Le berpikir jangan-jangan perempuan itu memang bisu.

“Baiklah, kupanggil kau Ciel yang berarti langit. Karena kau penuh tanda seperti langit.”

Perempuan itu tersenyum kembali.

“Aku anggap itu setuju.”

Semenjak itu mereka sering bersama. Entah disengaja atau takdir Yang Kuasa. Entahlah. Le seperti melihat sosok dirinya dalam Ciel. Ciel tak ingat asal-usulnya dan tak pernah menyebutkan nama aslinya. Namun, bagi Le cukuplah ia tahu siapa Ciel sekarang. Oh ya, Ciel belum pernah mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya berkomunikasi lewat ekspresi. Kadang senyum, kadang muram. Tak jarang manyun.

Sore itu Le pergi ke bangunan tua di atas bukit gundul. Ia ingin menikmati senja. Sendiri. Ia selalu melakukan ini tiap tengah bulan, kala purnama hendak menggantikan surya setengah hari lamanya. Ia tak tahu mengapa. Yang jelas dengan melihat matahari terbenam di tengah bulan, Le merasa nyaman.

Tiba-tiba….Bruk!!!

Ciel merangkulnya dari belakang.

Le kaget.

Bagaimana bisa Ciel sampai ke tempat sakralnya itu.

Ciel tersenyum.

Le tersenyum.

Matahari mulai mengundurkan diri.

Le dan Ciel saling menatap.

Perlahan wajah Ciel mendekat.

Le memejamkan matanya.

Pasrah.

Ciel makin merapat.

Krack…

Sial.

Tanah tempat mereka berdiri amblas.

Pijakan kaki mereka tak cukup kuat menahan beban dua orang.

Ciel terbanting di tempat. Malang, Le ikut amblas. Rupanya tanah di bawah ikut longsor. Le sempat terbawa sampai ke dasar bukit. Untung Le orang kuat. Ia berhasil meloloskan diri dari arus longsor dan berbaring di sisi bukit. Ciel berlari turun ke arah Le. Dilihatnya Le baik-baik saja.

“Syukurlah,” gumamnya dalam hati.

Hanya pakaian yang kotor penuh tanah dan koyak di dada. Bukan koyak melainkan tergores. Tergores cukup panjang hingga…dadanya koyak. Dadanya koyak. Ciel melihat jelas isi dada Le. Kosong. Bahkan tulang pun tak ada. Ciel terhenyak. Le menatapnya lamat.

” Apa kamu masih mau menerimaku?”

Ciel terdiam.

“Inilah aku. Lelaki yang dikutuk tak bisa merasakan daya asmara.”

Ciel membisu.

“Jantungku telah ku berikan. Aku tak bisa merasakan apa-apa. Karena rasa hanya miliknya.”

Ciel mematung.

“Apa kamu masih mau menerimaku?”

Ciel mengangguk.

“Tolong katakan, aku butuh kata itu darimu.'”

Ciel menggeleng.

Le bingung.

“Tolong katakan.”

Le terus mendesak.

Ciel menangis.

“Ya,”

Seketika itu tubuh Ciel berpendar. Dari jengkal tubuhnya keluar sinar. Sinar itu meluruh. Perlahan kakinya berubah menjadi cahaya. Bibit-bibit cahaya itu terbang ke segala penjuru. Seperti kunang-kunang di musim penghujan. Cahaya itu moksa dan tertinggal sosok bersayap dan bersulur. Kupu-kupu.

Le mengenalinya. Itu adalah kupu-kupu yang sama sewaktu ia terkapar di padang silam. Le masih ingat. Hewan itu adalah hal pertama yang dilihatnya sewaktu siuman. Le hafal betul manyun sulur dan dingin tatapan kupu-kupu yang membangunkannya itu.

Kupu-kupu itu pergi. Meninggalkan Le sendiri dengan luka menganga dan dada yang terkoyak. [ ]