Jarum jam mulai beringsut dua puluh menit dari pukul delapan. Malam semakin larut dalam keheningan yang ia ciptakan. Makhluk-makhluk yang bertengkar sepakat untuk berdamai dalam selimut kelelahan. Suasana setenang ini tak akan pernah ditemukan oleh pekerja yang terbenam oleh tuntutan. Mendengarkan sebuah lagu untuk sang perawan yang bermalam di seberang, menghentak setiap kebisuan yang tercipta dengan sempurna. Aku terpaku di depan layar putih, tak sendiri tapi terasa sunyi. Setiap bait yang ditulis adalah curahan, setiap huruf yang terketik adalah muntahan. Semua mengalir begitu saja seperti air pegunungan yang mengalir turun membelah setiap cekungan lembah, mengisi kantong-kantong kehidupan dengan kesegaran.

Aku berusaha membunuh waktu dengan cara yang tak biasa. Kutusuk berulang-kali dengan pisau perak kegundahan. Kubedah dengan berondongan pertanyaan. Kukeluarkan semua isinya sampai fragmen-fragmen penyusunnya tercerai-berai tak berbentuk. Kegundahan, kerisauan, dan tuntutan-tuntutan yang aku buat sendiri memenjarakanku dalam kebosanan malam.

Menunggu apa yang harus dikerjakan dengan tidak melakukan apapun adalah pilihan. Pilihan yang harus dikebiri oleh serentetan ideologi, impian, dan keyakinan. Jika pilihannya hanya dapat dipilih satu, apakah itu sebuah pilihan? Jika pilihan itu hanya ada satu tak masalah. Masih untung ada sebuah pilihan daripada tidak sama sekali. Sebuah pilihan yang mengajak kita dengan tebasannya untuk berdamai dan berkreatif dengannya. Bukankah semuanya selalu beroposisi. Seperti siang dan malam. Tanpa sebuah oposisi, sebuah pengertian dan komunikasi tak akan pernah lahir. Yang terpenting bukanlah apa yang akan kita pilih atau pilihan apa yang disajikan. Namun keotonoman dan kesadaran kita untuk memilih dan menjatuhkan pilihanlah yang membuat manusia layak disebut manusia. Tanpa hal remeh-temeh tersebut manusia hanyalah seonggok daging bernaluri.

Menunggu bukanlah tindakan pasif. Menunggu adalah sebuah perlawanan terhadap kelincahan waktu yang mengobrak-abrik kebebasan manusia. Menunggu dapat berarti menghimpun semua potensi untuk melepaskannya bersama-sama. Bukankah manusia memang ditakdirkan untuk bersahabat dengan istilah menunggu. Adam harus menunggu Allah menciptakan Hawa guna mengusir kebosanannya. Nuh harus menunggu sampai tuhan-Nya memerintahkan membuat bahtera di puncak gunung. Bangsa Yahudi harus menunggu berulangkali agar juru selamat datang kembali kepada mereka. Bahkan para perindu sorga dan penghuni neraka harus menunggu sampai kiamat sebelum mereka duduk di posisi masing-masing. Menunggu adalah ciuman yang melalaikan manusia dalam keremangan waktu. Disadari atau tidak, ingin atau tidak, manusia takkan jauh dari perbuatan menunggu dengan atau tanpa sebuah kesadaran. Mungkin seperti kata seorang kawan dalam sebuah Antologi….

 

Aku akan menunggu,

Tetap menunggu,

Hingga lumut tumbuh

di dinding waktu [ ]


28 Juni 2006, tepat tiga langkah sebelum ketiganya bersatu