Selasa, 24 Juli 2006

Besok adalah Mubes. Musyawarah Besar. Sebuah ajang curhat, umpat, cari tempat, suksesi juga mencari solusi. Sebuah momen dipertemukannya seluruh awak untuk duduk bersama, berdialektika dan bereureka sambil melancarkan advertorial secara artistik. Ini adalah mubes pertamaku, tapi ini bukanlah suksesi atau rapat besar pertama yang pernah aku ikuti. Cukup sering aku ikut dalam sebuah suksesi, rapat besar, atau apapun namanya. Namun aku tak pernah merasa semelankolis ini. mendekati sebuah suksesi. Sebuah suksei selalu melahirkan perpisahan dan juga semangat baru. Tapi untuk yang satu ini, aroma sebuah perpisahan justru kental melingkupi.

Semua berawal dari malam saat aku ngobrol berdua dengan Bram di teras depan rumah yang mempertemukan kami. Saat itu, kalau aku tidak salah ingat, adalah pertama kali aku berbicara dengannya sebagai seorang kawan. Selama ini aku selalu memposisikan diriku sebagai seorang staff yang mengikuti instruksi atasannya-walaupun aku tidak pernah menganggapnya sebagai seorang Kaprod yang baik- akan tetapi malam itu, semua berubah. Aku dan Bram berbicara sebagai seorang kawan tanpa ada perasaan pakewuh. Obrolannya pun ra mutu. Berkisar tentang hal-hal jorok dan menertawakan kejombloan masing-masing. Lambat laun, kami pun menyinggung masalah Balairung. Hal yang mempertemukan kami dan menyatukan kami dalam sebuah kerja bersama.Tak jelas siapa yang memulai. Kami mulai meracau tentang alasan-alasan mengapa kami sampai terjerumus ke komunitas ini, mengingat masa-masa awal saat aku mulai masuk dan berulah, sampai masa depan divisi tempat kami bekerja, berbagi, dan mengumpat bersama. Aku yang mulai resah dan semakin muak dengan rutinitas kerja mengeluh tentang kesendirian dan kesepianku. Jujur saja, aku merasa kesepian di ‘rumah kerja’ku sendiri.

Dulu saat angkatanku di produksi masih genap delapan orang, aku merasa kami akan menjadi tim yang hebat. Walaupun tidak terlalu dekat, kami memiliki sebuah mimpi yang sama. Sebuah mimpi untuk menjadi angkatan dengan visual terbaik sepanjang sejarah Balairung. Kami memiliki tiga buah lay-outer. Dani; yang tidak diragukan lagi komitmen, kemampuan serta kesabarannya membuat kami merasa memiliki seorang Madame yang mengayomi. Ipang; seseorang yang dilahirkan dengan naluri artistik dengan inovasi dan keahliannya dalam mengolah vector dan bitmap memantapkan hati kami kalau mimpi itu tinggal menunggu waktu untuk terwujud. Irsyad, awalnya ia tidak tahu sama sekali tentang lay-out. Namun kemauannya yang keras untuk belajar mengalahkan semangat siapapun. Kami juga dilengkapi dengan dua buah illustrator dengan dua gaya yang berbeda. Ade; penerus tradisi emas illustrator Balairung ini mewarisi gaya gambar karikatur yang cerdas dan kritis namun tetap menggelitik. Perpaduan gaya kritis Sibarani berpadu dengan kekonyolan Hanung Kuncoro terlahir lewat goresan-goresannya tanpa meninggalkan sentuhan Padang yang khas. Kelak, ia akan menjadi illustrator handal dan disegani karena keorisinalitasannya. Beta; illustrator yang mengadopsi gaya serial cantik ini memberikan warna unik dalam visual Balairung. Setahuku illustrator yang menguasai gaya ini dapat dihitung dengan jari. Tak lupa, tiga orang fotografer yang siap mengawal mimpi itu menjadi kenyatan. Kibu; watak keras dan pemberani menjadi modal besar baginya untuk terjun ke lapangan dan menghiasi Balairung dengan foto-foto jurnalistik yang membuat siapapun mengrenyitkan dahi. Iman; Ia sangat menyukai dan ingin belajar banyak tentang fotografi lebih dari siapapun yang aku kenal. Baginya kamera hanyalah sebuah alat tak bernyawa. Karena itu, ia tidak pernah canggung ataupun mengeluh memakai kamera apapun. Sebuah naluri murni dari seorang fotografer. Dan aku sendiri, fotografer. Sungguh formasi impian bagi sebuah penerbitan bahkan untuk persma sekelas Balairung. Aku sangat optimis mimpi itu itu akan menjadi kenyataan, hanya tinggal menunggu waktu saja. Balkon 82 menjadi bukti kesolidan kami. Kerja tim yang langsung dapat terasa chemistry-nya melahirkan sebuah terbitan yang mengundang pujian dan optimisme akan masa depan visual persma berbahasa Indonesia terbesar di dunia. Namun semuanya berubah. Kesolidan yang manis di awal mulai mengalami goncangan. Semuanya berawal dari peristiwa itu…

Jum’at, 17 Februari 2006. Saat itu aku sedang menaiki tangga makam raja Imogiri dan menghitung jumlah anak tangga menuju ke puncak. Pada hitungan ke 114, HP di kantong celanaku bergetar. Segera saja kuambil dan kulihat ada apa gerangan. Sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. “Di, kamu dimana?” sosok suara tersebut menyolot dari ujung telepon. “Dani dah gak ada” sambungnya tanpa memberi aku kesempatan sedikitpun untuk bertanya siapa si pemilik suara. Pikiranku kalut seketika itu., aku terdiam cukup lama. Antara percaya dan tidak mendengar berita yang datang bak petir di siang bolong. Bukan, ini bukan ibarat! Ini benar-benar petir di siang bolong. Suara di ujung telepon terus memanggil namaku, tapi aku bergeming. Cukup lama aku kehilangan kesadaran atas ruang dan waktu. Tubuhku tetap berdiri tapi pikiranku pergi entah ke mana….

Semenjak itu, hubungan kami mulai goyah. Kepiluan yang berlarut berimbas pada kerja-kerja kami. Kerja kami menjadi amburadul seperti orang bingung. Manusia boleh bersedih namun hidup masih harus dijalani. Matahari akan tetap terbit dari timur dan terbenam di barat walaupun air mata manusia menjadi samudera. Perlahan aku mulai melanjutkan apa yang Dani belum selesaikan. Praktis, aku bekerja dobel sebagai fotografer sekaligus layouter. Cerita pilu ini belum usai, Beta yang merasa sendirian memutuskan untuk keluar dari Balairung dengan alasan akademis. Sebuah pukulan telak bagi kami, terutama Ade yang harus menjadi seorang single fighter. Ternyata inipun bukan akhir cerita sedih bagi kami, Dua orang fotografer, Iman dan Kibu, menghilang begitu saja tanpa kabar. Bahkan sampai malam ini…

Dinikmati saja, jalanmu masih panjang di sini,” tukas Bram dengan entengnya. Ia juga berkata jangan terlalu berharap banyak pada komitmen seseorang. Mungkin pengalaman mengajarkannya begitu. Bram merupakan satu-satuya awak produksi yang tersisa dari angkatannya. Aku salut, ia memegang komitmennya sampai akhir. Kadangkala sebuah komitmen hanyalah tinggal komitmen. Memegang sebuah komitmen yang meluncur dari sepotong lidah sangatlah sukar karena ia licin tak bertulang. Entahlah apakah aku akan mampu memegang komitmenku di sini. Aku tak yakin, apalagi jika sendiri.

Malam yang beranjak tua menjadi hangat oleh celotehan dan intrikan diantara kami. Sampai suatu ketika Bram berkata,”Setelah ini aku akan berhenti dari dunia desain.” Sontak aku kaget mendengarnya. Bram, seorang Kaprod yang telah merevolusi Balkon dan membawa divisi produksi keluar dari abad kegelapan, menyatakan berhenti ?!!! Keputusan yang berani sekaligus aneh dari seseorang yang besar dari dunia grafis.

“Sudah saatnya aku keluar dari zona aman”

“Maksudmu?”

“Selama ini aku selalu berada di zona aman. Zona kompromi. Sebenarnya duniaku bukanlah di sini. Aku berusaha berjalan di tengah, antara dunia eksakta dan non eksakta, antara desain dan program.”

“Bukankah selama ini baik-baik saja? Bahkan, di dunia grafis kau sudah mendapatkan pembuktian.”

“Aku sudah tidak mencari pembuktian lagi. Aku merasa sudah stag dan poll di grafis. Setelah tiga tahun berkompromi aku sadar kalau aku benar-benar anak eksakta.”

“Aku tambah bingung Bram!”

“Selama tiga tahun aku berusaha menyesuaikan dengan dunia grafis dan seni yang menjadi budaya di produksi. Sebenarnya aku tidak suka pergi ke pameran, atau berbicara tentang seni. Semuanya kompromi.”

“Bukankah hidup selalu berkompromi?”

“Ya, tapi hidup juga harus memilih. Ada saatnya manusia harus keluar dari kenyamanan dan memilih untuk menghadapi resiko di dunia luar. Untukku, saat itu adalah sekarang. No Pain No Gain!