Bayangkan sebuah dunia tanpa jurnalis dan koran cetak sekadar menjadi bacaan khusus orang tua.

 

Ini dimulai tatkala Tim Bernads-Lee menemukan World Wide Web atau yang dikenal dengan www pada 1989. Penemuan ini lantas direspon cepat lewat kemunculan Amazon.Com (1994), situs maya pencari buku, dan Google, mesin pencari situs (1998). Kemudahan aplikasi membuat dua situs pencari ini menjadi rujukan utama para peselancar di dunia maya. Hamparan dunia maya semakin ramai ketika Blogger (1999), situs maya literasi ala buku harian, dan Friendster (2002), situs koneksi sosial di dunia maya, nimbrung. Jutaan peselancar baru berduyun-duyun menyambangi dunia baru yang ‘diketemukan’ pasca Perang Dunia II ini.

Dunia akan mengingat 2004 sebagai tahun awal dibunyikannya sangkakala bagi media massa cetak dan profesi jurnalis. Pada tahun ini, Google yang telah mengakuisisi Blogger meluncurkan G-mail, situs layanan pesan elektronik, sebagai tandingan Microsoft dengan Hotmail-nya. Bulan Agustus, Google mengembangkan sayapnya ke publik. Ia kemudian menggandeng Key Hole, perusahaan pemetaan dunia yang menjadi cikal bakal Google Earth (GE). Lewat GE, Google mulai mengonversi dunia lewat kode-kode digital dan indeks.

Microsoft menyambut tantangan ini dengan membeli Friendster pada 2005. Di lain pihak, Apple meluncurkan gadget Wifipod yang memungkinkan penggunanya menerima dan mengirim pesan di mana saja. Google makin menajamkan cengkeramannya lewat peluncuran Google Grid (GG). GG laiknya sebuah podium universal yang menyediakan ruang dan bandwidth hampir tak terbatas bagi penggunanya. GG memungkinkan pengguna mengatur informasinya lewat dua cara, menyimpannya secara privat atau memublikasikannya.

Rupanya Microsoft tak tinggal diam. Mesin korporasi Bill Gates ini merilis Microsoftboster (2007), sebuah jaringan berita sosial yang memungkinkan masyarakat melaporkan kejadian apapun yang dialaminya. Kemunculan Microsoftboster ini tak ubahnya hujaman ke jantung dunia para jurnalis. Google semakin beringas. Bersama Amazon, ia membentuk Googlezon (2008), sebuah sistem terpadu yang secara otomatis mencari sumber data beserta keterangan di baliknya untuk mengakomodasi kepentingan individu yang berbeda.

Perang media dan berita antardua raksasa ini semakin menggila pada 2010. Predikat paling cepat dan akurat diperebutkan. Namun, ini juga menjadi titik jenuh perkembangan organisasi berita dan media. Di sisi lain, pergumulan ini laiknya sirine ambulans bagi korporasi media massa cetak. New York Times (NYT), sang pionir media massa cetak, berusaha melawan. NYT mengangkat isu copyright guna menjegal raksasa-raksasa media baru ini. Sayang, usahanya terganjal di Pengadilan Luar Biasa (Supreme Court).

Akhirnya, dengan mulus Googlezon melepas EPIC, Evolving Personalized Information Construct pada 2014. EPIC mengandaikan para penggunanya sebagai produsen dan konsumen informasi sekaligus. Para pengguna EPIC mengontribusikan pengetahuan yang mereka punya ke jejaring pusat. Informasi ini kemudian secara otomatis disebarkan ke individu-individu yang membutuhkan. Dengan kata lain, EPIC tak membutuhkan lagi jurnalis sebagai penyedia berita lantaran semua penggunanya telah dan tengah bertindak sebagai ‘jurnalis’. EPIC tak hanya menyajikan berita tetapi juga demografi, pandangan terkini, dan komentar dari para penggunanya.

Kepopuleran EPIC tak ubahnya pisau Guillotine bagi media massa tradisional (baca:cetak). Penggunaan kertas sebagai medium utama media massa cetak semakin tidak populer. Efisiensi, kepraktisan, dan kecepatan menjadi alasan utama koran-koran cetak makin ditinggalkan. Akhirnya ‘kaum tradisonal’ mau tak mau mengangkat kutang putih. Ini ditandai mundurnya NYT dari dunia on line. Koran cetakpun hanya dikonsumsi orang tua dan golongan tertentu.

Itulah sekilas sinopsis EPIC 2015, Flash Movie garapan Robin Sloan dan Matt Thompson. Film berdurasi delapan menit ini mengetengahkan pandangan fiksi mengenai Museum Sejarah Media pada 2014. EPIC mengeksplorasi kemunculan situs-situs penyedia berita dan perkembangan jurnalisme masyarakat di masa depan. Lebih lanjut EPIC meramalkan masa depan media massa cetak yang kolaps. ‘Ramalan-ramalan’ ini coba dipenuhi semenjak ia diluncurkan pada November 2004. EPIC juga merilis versi terbaru, EPIC 2015, pada Januari 2005, sebagai pelengkap ramalannya.

EPIC memimpikan semacam masyarakat informasi. Sebuah tatanan masyarakat yang mengandaikan informasi sebagai komoditas bebas. Masyarakat berlaku sebagai produsen dan konsumen sekaligus. EPIC berusaha memutus rantai berita yang selama ini dikuasai korporasi media dan jurnalis. Dengan menempatkan masyarakat sebagai jurnalis dan audience sekaligus, apalagi dilengkapi data dari Googlezon, posisi media massa tradisional akan semakin terpinggirkan. Pola-pola penyampaian berita konservatif didobrak lewat masifnya jurnalisme warga (public journalism). Alhasil, seperti ramalan EPIC, media massa cetak menjadi sekadar artefak yang tinggal menunggu waktu difosilkan.

Namun, di satu sisi EPIC juga menyisakan pekerjaan rumah yang tak kalah kisruhnya. Tatkala semua orang menjadi jurnalis, arus informasi menjadi semakin besar bahkan tidak menutup kemungkinan meledak seketika. Ledakan arus informasi ini nantinya menjadi sampah-sampah informasi yang entah bagaimana penanggulangannya. Selain itu, ketiadaan jurnalis sebagai faktor ahli memancing konsekuensi. Berita-berita tersebut bak tumpukan informasi yang menggunung tetapi masih terfragmentasi. Berita-berita tersebut menjadi semacam kumpulan trivia dalam buku harian besar bernama EPIC. Tak pelak, unsur kebenaran dan faktualitasnya masih perlu diuji lebih lanjut.

Laiknya materi di alam semesta yang menyisakan oposisi biner, EPIC pun memiliki wajah ganda. Lewat konsep integrasi produksi-konsumsi, EPIC menjajikan harapan masyarakat informasi tak lagi utopis. Namun, wajah yang lain mengingatkan. EPIC juga menyimpan potensi ledakan sampah informasi dan ranjau-ranjau kefaktualan. Pekerjaan rumah yang bikin pening ini mesti diselesaikan dahulu sebelum ramalan ini benar-benar dipenuhi. Jika tidak, jangan katrok kalau yang terwujud bukan sebuah utopia melainkan distopia.