Tak ada fakta yang paling nyata,
hanya irisan peristiwa bernama realitas.

Siang itu, Bunderan UGM dikuasai gerombolan demonstran. Riuh ramai tuntutan mereka beradu dengan lalu lintas yang padat merayap. Dari televisi, massa terlhat begitu masif seolah ruang dalam ‘kotak ajaib’ itu tak cukup menampung mereka. Siang itu pula, beberapa mahasiswa sedang asyik menikmati sup buah tak jauh dari tempat demonstran berorasi. Lalu lintas keluar masuk kampus UGM juga lancar-lancar saja. Aktivitas kampus berjalan seperti biasa. Jadi realitas mana yang benar?

Realitas adalah paradoks. Secara umum ia dimaknai sebagai keadaan sebagaimana yang sesungguhnya ada (J.S Badudu dalam Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia,2003). Namun, realitas tak seringkas arti lemanya. Realitas tak ubahnya irisan cerita. Ia menggambarkan peristiwa lewat sudut pandang yang ia pilih. Ini berarti realitas tak pernah sama dengan peristiwa yang ia gambarkan
.
Kedua realitas dalam ilustrasi di atas benar adanya, namun dalam skala relatif. Keduanya menggambarkan peristiwa di saat dan tempat yang sama, namun masing-masing punya sudut pandang berbeda. Yang disebut pertama menggambarkan sebuah siang di Bunderan lewat demontrasi. Yang lain melukiskan suasana di sekitar demo itu. Benar tapi tak seluruhnya. Demo itu adalah sebuah bagian cerita dari sebuah siang di Bunderan, begitu pula suasana di sekitarnya. Pun dengan fakta-fakta lain yang terjadi dan belum diceritakan.

Realitas hanya ada dalam pikiran bukan terjadi secara nyata. Sebuah peristiwa dapat dipahami menjadi banyak cerita. Sebuah kejadian yang sama, dapat diartikulasi berbeda. Ini terkait keberagaman bingkai pengalaman (frame of reference). Tak satupun manusia punya pengalaman yang sama, tak satupun cerita tentang peristiwa yang persis. Apa yang diutarakan adalah apa yang ia pahami lewat bingkai pengalamannya. Setiap orang punya cerita, atau dengan kata lain setiap orang punya realitasnya masing-masing.

Pun dengan realitas sosial. Ia dipahami sebagai sebuah ‘kenyataan’ yang dipahami bersama oleh banyak orang. Tiap orang punya realitas sendiri dan benang merah yang menghubungkan realitas-realitas inilah yang dianggap sebagai realitas sosial Ia hanya gambaran besar mengenai peristiwa yang dipahami oleh banyak orang.

Ada banyak cara bagaimana realitas sosial ini tersebar dan berkembang. Salah satunya lewat media massa. Media massa, terutama televisi, memproduksi peristiwa menjadi fakta ala berita. Media mengemas berita sedimikian rupa sehingga realitas tangan kedua (atau bahkan ketiga atau kesekian) yang dipakai televisi dianggap mewakili realitas sosial. Pada takaran ini realitas sosial ala televisi (imagologi) menjadi acuan realitas masyarakat. Realitas sosial di masyarakat adalah (informasi) apa yang mereka konsumsi tiap hari. Tak peduli itu benar-benar ada atau hanya simulakra. [ ]