Ruang maya atau cyberspace lagi-lagi memaksa kita untuk  memaknai kembali apa yang disebut komunitas. Komunitas tak lagi berarti sekumpulan orang yang berkumpul, dan berinteraksi yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Pemaknaan konvensional akan tempat, yang menjadi salah satu syarat utama terbentuknya komunitas, gugur seketika berhadapan dengannya. Ada perbedaan mendasar pemakaan ruang antara dunia maya dan nyata. Tempat tak lagi sebuah lahan yng dibatasi oleh wujud-wujud konkret yang kasat oleh sentuhan fisik. Dalam ruang maya, tempat itu adalah ruang imajiner yang disediakan oleh bit-bit komputer.

 

Memang, sebuah komunitas di dunia nyata pun masih memerlukan imajinasi anggotanya akan tempat, seperti dalam konsep imagined community-nya B.Anderson. Indonesia sebagai sebuah negara sebenarnya hanyalah komunitas imajiner. Sulit dibayangkan bagaimana orang Papua dan Aceh yang tidak pernah bertemu, berinteraksi atau bahkan tahu satu sama lain dapat dikatakan menjadi sebuah anggota masyarakat yang satu. Sangat sulit mencari benang merah diantaranya. Yang ada, hanyalah sebuah gambaran tentang suatu wilayah (imagined place) yang terdiri dari banyak pulau, terbentang dari Sabang sampai Merauke dan terikat menjadi sebuah komunitas besar yaitu negara Indonesia.

 

Namun, negara bangsa yang diimajinasikan itupun masih membutuhkan tempat nyata (place) yang memiliki wujud konkret. Perlu ada wilayah yang benar-benar bisa dipercaya sebagai sebuah teritori, minimal secara geografis. Sebaliknya, dalam ruang maya, tempat yang diimajinasikan itu tidak memiliki wujud konkret atau fisik, tetapi wujud yang terbentuk berupa citraan grafis dalam komputer.

 

Karena wujudnya yang tak konkret, tak pelak komunitas yang terbentuk di ruang maya menjadi khas, kalau tak boleh dibilang berbeda, dengan komunitas di dunia nyata. Setidaknya ada dua hal; tempat dan identitas.

 

Pertama, identitas. Dalam komunitas maya, identitas asli anggota tak lagi menjadi utama. Yang terpenting adalah keaktifan anggota. Konsep pembedaan sosial yang berkembang pada masyarakat dunia saat ini perlahan luluh saat ia hadir ke komunitas maya. Seorang manajer perusahaan ternama tidak akan didengar pendapatnya dalam sebuah komunitas maya apabila ia jarang berinteraksi di komunitas itu. Sebaliknya, seorang pegawai rendahan yang aktif di dunia maya mampu menjadi opinion leader bagi anggota lainnya. Status di dunia nyata ketika ia dibawa ke dunia maya tak lagi banyak berguna. Setiap orang bisa menjadi siapapun dan memiliki identas baru di dunia maya. Identitas di dunia mayalah yang terlihat bukan status di dunia nyata.

 

Ruang maya menawarkan sebuah ruang egaliter bagi penggunanya. Orang didengar karena pendapatnya bukan identitas. Ini sesuai dengan yang dicita-citakan Juergen Habermas tentang masyarakat komunikasi dan situasi komunikasi ideal. Sebuah situasi komunikasi yang dapat menghasilkan sebuah tindak komunikasi yang rasional, terbuka, dan tidak terjadi pemaksaan didalamnya.

 

Iklim demokrasi yang selama ini utopia di dunia nyata seolah mendapat angin segar. Berdasar karakter medianya, ruang maya menyediakan tempat bagi sebuah komunitas ideal. Setiap anggotanya dapat berperan di dalamnya, selama ia memiliki akses, sarana, dan kompetensi dalam bahasanya. 

 

Kedua, tempat. Komunitas maya menggunakan tempat yang maya juga untuk berinteraksi. Tempat yang maya ini menyebabkan aktivitas sebuah komunitas maya tak terbatas ruang dan waktu. Untuk dapat berinteraksi, seseorang tak perlu tempat tertentu atau khusus yang harus dikunjungi, atau dengan kata lain membutuhkan kehadiran fisik. Dimanapun seseorang itu berada, asal ada koneksi internet, ia dapat berkomunitas (mengunjungi komunitasnya) seketika.

 

Tempat yang tak berbatas teritori fisik ini membuka kesempatan bagi setiap orang untuk ‘berkunjung’ ke belahan bumi lain tanpa memerlukan aktivitas fisik. Sangat menakjubkan taktala semua orang di dunia berinteraksi tanpa harus berkumpul di suatu tempat (place). Pertemuan antar pemimpin negara di dunia tak perlu lagi mengunjungi suatu tempat dan menghabiskan banyak duit untuk perjamuan dan acara seremonial. Cukup duduk di depan layar dan semuanya saling terkoneksi.

 

Namun, ruang maya adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, ia menawarkan sebuah dunia egaliter yang memampatkan ruang-waktu. Di sisi lain, dunia yang bebas dan tanpa teritori ini menimbulkan konsekuensi yang besar pula.

 

Agar dapat berjalan baik, sebuah masyarakat mengharuskan adanya pemimpin, konvensi sosial, dan lembaga hukum. Dalam komunitas maya, ketiga unsur itu sangat lemah keberadaanya. Tak adanya lembaga (institusi) yang dapat mengatur itu semua. Dalam dunia maya, setiap orang seakan-akan menjadi pemimpin, penilai, sekaligus pengatur. Keegaliteran yang harusnya menjadi tujuan awal berubah menjadi anarkisme. Tak ada yang mengatur, menilai, dan mengontrol segala tindakan sosial. Dengan kata lain anything goes, apapun boleh.

 

Ruang maya membuka ruang selebar-lebarnya bagi setiap orang untuk menciptakan konsep diri atau identitas. Seseorang bisa menjadi apapun atau siapaun, artifisial atau asli secara tak terbatas. Dengan kata lain, identitas menjadi konsep yang lemah dalam ruang maya. Karakter ruang maya juga membuka pintu lebar-lebar bagi aksi penipuan, pemalsuan, dan simulasi realitas. Alih-alih menjadi ruang publik yang ideal seperti impian Habermas, sebaliknya, ruang maya menjadi ajang rekayasa dan tumbuh suburnya segala pemalsuan, penipuan, dan simulasi.

 

Ini berpengaruh pada status sebuah komunitas maya. Jumlah anggota dalam komunitas maya sangat sulit dicek kebenarannya. Pendataan diri atau identitas tiap anggota hampir mustahil dilakukan tanpa campur tangan di dunia nyata. Berarti, konsep ‘seseorang didengar karena pendapat bukan identitas’ tak selamanya berjalan mulus di dunia maya.

 

Karena alasan-alasan itu, komunitas maya acapkali hadir sebagai pelengkap (komplemen) bukan subtitusi. Manusia coba menggabungkan kekuatan dunia maya dengan ketahanan di dunia nyata. Mencoba memampatkan ruang dan waktu sementara konsep identitas tetap terjaga. Komunitas yang ada di dunia nyata mencoba merabah dunia maya untuk meluaskan aktifitasnya. Namun, untuk masalah registrasi dan keanggotaan tetap menggunakan sistem yang berlaku di dunia nyata.

 

Ruang maya adalah sebuah ruang tanpa otoritas. Ia tak ubahnya sebuah landskap bumi jaman purba. Saat bumi yang liar terbentang begitu luas sementara manusia masih sedikit dan belum saling berkelompok. Sumber daya yang ada seolah cukup dan melimpah bagi setiap orang. Saat itu pula, semua orang bebas berbicara dan berekspresi. Setiap orang dapat melintas karena tak ada tapal batas. Namun, bukan berarti tak ada hegemoni

Atau keinginan untuk saling menguasai.

 

Struktur ruang maya memungkinkan sebuah ruang publik terbuka dan egaliter. Setiap orang memiliki hak, kesempatan, dan akses yang sama. Namun, dalam kenyataanya konsep ini lagi-lagi menjadi sebuah utopia. Sebuah ruang publik yang ideal menuntut kejujuran dan keterbukaan namun ini tak dapat disediadakan ruang maya. Konsep identitas di ruang maya yang menjadi ujung tombak egalitarianisme malah berbalik menjadi pintu masuk tindak pemalsuan, penipuan, dan simulasi. Konsep tempat yang imajiner menuntut konsekuensi di bidang pengaturan hukum. Tak adanya pengaturan hukum menyebabkan kekacauan identitas dan anarkisme simbol (baca:identitas).

 

Ruang maya menyediakan lahan subur bagi tumbuhnya kembangnya sebuah komunitas. Komunitas maya menjadi embrio awal terbentuknya masyarakat egaliter yang selama ini sekadar utopia di dunia nyata. Namun, ruang maya juga merupakan lahan pembantaian terhadap konsep identitas. Lahan ini menyimpan bibit-bibit subur anarkisme simbol. Sinergi antara ruang maya dan nyata diperlukan untuk membentuk sebuah komunitas, entah di ruang nyata atau maya, yang mampu menjadi embrio masyarakat egaliter. Jika tidak, impian itu akan tetap menjadi utopi. [ ]