tit..tit…tit..tit…pagerku berbunyi…

tit..tit..tit..tit… begitu bunyinya

Lirik itu begitu populer di kalangan anak muda era 90-an. Sebait reffrain dari lagu Pager yang dibawakan Sweet Martabak dengan irama hip-hop. Meski hanya beberapa bulan, angka penjualan kasetnya sempat meledak di pasaran. Ini mengingatkan betapa pager pernah berjaya di masanya.

Pager adalah peralatan elektronik untuk menghubungi seseorang lewat jaringan paging. Ia merupakan teknologi awal mobile phone. Prinsip kerjanya mirip transmisi radio yang menggunakan komunikasi antara pusat kontrol dan penerima (wikipedia,2007). Sang pengirim pesan menghubungi operator dan mengatakan pesan yang ingin disampaikan. Kemudian, operator akan mengirim pesan tersebut ke pesawat pager yang dituju dalam waktu yang hampir bersamaan (real time).

Cara pengiriman pesan model ini telah populer sejak kedatangannya di Indonesia awal 90-an. Saat itu, Indonesia sedang asyik-asyiknya melaksanakan pembangunan. Tenaga kerja yang mobile sangat dibutuhkan. Akibatnya, banyak pekerja yang menghabiskan waktunya di jalan atau di tempat kerja. Otomatis, pihak yang berkepentingan dengan mereka akan kesulitan berkomunikasi. Perlu ada suatu sistem atau alat komunikasi jarak jauh yang mampu menghubungkan mereka dimana dan kapan saja. Pager menjadi salah satu pilihan. Efisiensi kerja dan biaya menjadi salah satu pertimbangan. Pager mampu menyingkat biaya operasional dan mata rantai komunikasi. Biaya yang dikeluarkan untuk pesan lewat pager per bulannya jauh lebih murah daripada membayar seorang kurir. Diasumsikan upah kurir waktu itu adalah Rp 200.000 sedangkan tarif pengiriman pesan lewat pager hanya Rp 1000 rupiah per pesan. Pesan pun sampai lebih cepat. Tak perlu waktu lama untuk mencari alamat yang dituju asal masih dalam coverage area.

Pagerpun langsung diadopsi para eksekutif dan pengusaha kelas kakap. Ia menjadi simbol kemajuan teknologi dan ekonomi. Dapat ditengarai, pemakainya adalah orang yang sibuk dan dicari. Istilah Call on Duty menjadi jamak diantara mereka. Tak lama berselang, pagerpun dipakai anak-anak muda ibu kota. Kemunculan pager pada Catatan si Boy, salah satu film Indonesia terpopuler di jamannya, menjadi salah satu katalisator. Teknologi ini menemukan masa keemasannya tahun 1996. Kemunculan pager berwarna-warni dan berbagai aksesorisnya menghilangkan anggapan pager adalah teknologi untuk orangtua. Pager menjadi gaya hidup baru dan penanda status sosial.

Belum lama pager merasakan kejayaannya, ancamanpun mulai muncul. Berawal dari kedatangan telepon seluler. Mirip dengan pager, telepon seluler juga bisa dibawa ke mana-mana (mobile phone) dengan kelebihan komunikasi bisa dilakukan dua arah. Semacam telepon yang bisa ditenteng kemana saja. Namun, ancaman ini rupanya kurang ampuh untuk menggeser pager dari singgasananya. Ukurannya yang cukup besar kurang praktis dibawa dan dibuat bergaya . Pun dengan tarif telepon yang mencapai 3-4x tarif pager. Maklum, waktu itu tak banyak provider yang menyediakan layanan ini. Untuk mendapatkannya harus memesan jauh hari seperti telepon konvensional. Cara pembayarannya tak ubahnya telepon konvensional yang ditagih tiap bulan atau yang kita kenal dengan sistem pasca bayar. Cukup repot.

Ancaman sebenarnya baru datang saat telepon seluler melengkapi dirinya dengan fasilitas Short Message Service (SMS). Fasilitas ini sangat mirip dengan pager, bahkan kemudahannya dalam mengirim pesan menjadi poin tersendiri. Pengguna fasilitas ini tak perlu lagi menghubungi operator dan mengatakan pesan untuk kemudian disampaikan ke alamat yang dituju. Cukup memencet keypad seperti mengetik di komputer, memasukkan nomor yang dituju, kirim, dan sampai. Fasilitas inipun segera booming, dan para pengguna pagerpun mulai berpaling. Ancaman ini semakin nyata, saat Telkomsel mampu menembus barikade Satelindo dengan Open Distribution Channel (ODC) atau yang lebih dikenal dengan sistem pra bayar. Sistem ini memisahkan nomor telepon yang disimpan dalam kartu SIM—sebagai produk operator—dengan pasar terminal telepon seluler sebagai barang komoditas bebas. Alhasil, pengguna telepon seluler memiliki banyak kombinasi pilihan. Empat operator seluler Indonesia kala itu :Indosat, Satelindo, Telkomsel, dan Pro Xl saling bersaing untuk mendapatkan pelanggan. Berbagai fasilitas pun ditawarkan. Dari jangkauan sampai kemampuan pengiriman gambar. Tarif telepon seluler pun makin murah. Persaingan pun tak hanya terjadi di tingkat operator namun juga alat. Produsen telepon seluler saling bersaing untuk memproduksi telepon seluler tercanggih. Berrbagai macam fitur coba dirangkai dalam dalam satu alat. Riuh-rendah persaingan ini semakin meminggirkan pemakai pager yang tersisa.

Ada beberapa sebab mengapa pager mulai ditinggalkan penggunanya dan beralih ke telepon seluler, antara lain:

1. Portable dan Praktis

Belajar dari kekalahan sebelumnya, telepon seluler dirancang sekecil dan seportable mungkin. Hasilnya telepon seluler seukuran pager pun beredar. Lagi pula, penggunanya tak perlu lagi sistematika pengiriman pesan yang rumit ala pager

2. Gaya hidup dan Status sosial

Gaya hidup masyarakat berkembang seiring kemajuan tekonologi. Pun dengan teknologi komunikasi. Sebagai faktor determinan di masyarakat, teknologi ini mampu membawa perubahan sosial. Ia mampu mengubah masyarakat menjadi lebih egaliter dan menaikkan status sosial. Teknologi terkini berarti tak banyak orang yang mengikuti. Ini menjadi semacam simbol sebagai yang terdepan dan paling modern. Pemakaian teknologi terkini dapat menaikkan status sosial dan sebaliknya. Hal itu terjadi pada telepon seluler dengan fasilitas SMS-nya sebagai teknologi terbaru kala itu

3.Privasi

Awalnya pager menawarkan privasi bagi penggunanya. Sistem komunikasi satu arah menyebabkan lokasi pesawat pager tak bisa dilacak. Namun, sistem pengiriman pesan lewat operator membuat privasi akan pesan seolah kurang terjamin. Sang operator akan mendengarkan langsung pesan yang disampaikan. Hasilnya, pesan terkesan kehilangan privasi. Padahal, untuk pesan-pesan sangat pribadi privasi menjadi hal sangat penting. Asumsi ini tak sepenuhya benar. Dalam fasilitas SMS ataupun telepon seluler pesan yang kita sampaikan sebenarnya telah masuk ke pusat data operator baru kemudian dikirim ke alamat tujuan. Namun tak terlihatnya peran operator ini membuat komunikasi seolah begitu pribadi dan langsung ke alamat yang dituju.

4. Kemudahan

Untuk menghubungi penggunan pager, pengirim pesan harus menghubungi operator terlebih dahulu dan menyampaikan pesan itu secara lisan. Hal ini akan bermasalah jika penyampai pesan adalah orang tua yang gagap bicaranya, tuna wicara, atau berbicara dengan bahasa yang tak dimengerti oleh operator. Komunikasi tulis lewat SMS memungkinkan teknologi ini dipakai lebih banyak orang. Bahkan untuk difabel sekalipun asalakan dia bisa mengetikkan pesannya di telepon seluler.

5. Biaya

Persaingan tarif antar operator dan antar produsen telepon seluler membuat biaya pemakaian telepon seluler menjadi semakin murah. Untuk mengirim pesan lewat SMS cukup dengan biaya normal Rp 350 per pesan. Bandingkan dengan pager yang mencapai angka ribuan rupiah. Untuk pesawatnya, harga pager dan telepon seluler saling bersaing.

6. Kemajuan teknologi dan Pengembangan

Pengembangan pager seolah berhenti setelah era keemasaannya di tahun 1996. Pengembangan hanya terjadi pada bentuk luar (chasing ), belum ada terobosan mutakhir kala itu. Berbeda dengan pager, inovasi terus dilanjutkan meski sempat gagal. Pun telepon seluler berusaha memasukkan berbagai macam fitur tambahan seperti : pengiriman gambar, musik, video, kamera, atau bahkan video streaming dalam satu alat. alhasil, pengguna telepon selular seolah mendapatkan semuanya dalam satu paket.

Terbuang bukan berarti hilang dari peredaran. Pager memang tersingkir dalam penggunaan teknologi komunikasi massal, tapi bukan berarti teknologi ini punah keberadaannya. Beberapa institusi dan profesi masih memakainya. antara lain: di bidang kedokteran, transportasi, bahkan Teknologi Informasi (TI). Dalam bidang kedokteran, pager digunakan oleh para dokter bedah. Di ruang bedah banyak terdapat alat-alat kedokteran yang menggunakan gelombang radio. Sinyal telepon seluler dapat mengganggu alat-alat tersebut dan akibatnya cukup fatal. Oleh karena itu, dipakailah pager untuk mengirim pesan penting kepada dokter di ruang bedah. Bahkan untuk keadaan darurat, perusahaan penyedia jasa TI menggunakan pager untuk berkomunikasi. Biasanya saat terjadi kerusakan jaringan komunikasi. Para teknisi berhubungan dengan menggunakan pager karena tidak memungkinkan untuk berhubungan lewat telepon seluler.

Pun kini, teknologi pager berkembang cukup pesat. Telah ada pager dengan sistem komunikasi dua arah, mengirim dan menerima. bahkan dalam waktu dekat ini Netindo Teknologi nPage Pager Gateway meluncurkan pager berteknologi internet (indo.net.id/enote. 2007). Walaupun populasi pager makin menurun tetapi provider teepon seluler tidak menganaktirikannya. Terbukti tiga provider telepon seluler terbesar di Indonesia menyediakan fasilitas pengiriman pesan pager lewat SMS.

Teknologi komunikasi berusaha menjawab segala kebutuhan manusia. Inovasi terus dilakukan agar teknologi itu terus hidup. Jika dalam dunia manusia dikenal diktum Darwin Survival the Fittest, maka dalam dunia teknologi komunikasi dikenal Survival the Fastest. Yang tercepat dan mutakhir adalah yang bertahan. Pun jika berada di puncak, bukan jaminan bahwa teknologi itu akan langgeng. Ancaman selalu membayang. Jika tak waspada, bisa jadi terpinggirkan atau menjadi teknologi kelas dua. Namun teknologi selalu menemukan tempatnya dan takkan pernah terbuang sia-sia meski dipakai saat-saat darurat saja. Seperti pager. [ ]