Jogja, 17 Juni 2008

 

Hari ini tak sebergas kemarin. Kali ini hidup bermula sedikit lebih siang dari biasanya. Tepatnya tujuh angka semenjak dini hari. Badan meriang sementara perut mulas tak karuan. Semalaman begadang. Ada tulisan yang kudu disemak. Baru bisa tertidur jam empat pagi. Sialnya, aku tertidur di ruang depan. Beralas anyaman yang tebalnya tak sampai setengah senti. Angin malam lagi syur-syurnya. Bisa bikin isi perut teraduk.

 

Selepas menunaikan subha (subuh kala dhuha), lagi-lagi ku pelototi larik-larik tulisan yang beberapa jam lalu ditinggal mimpi. Tak nanti, perut meronta lagi. Calon humus dalam ujung dubur rupanya ingin segera berbakti pada ibu pertiwi. Berkali-kali ia berteriak lantang sembari mengeluarkan aroma khas yang membuat beberapa kawan memuntahkan serapah. Segera saja ku sambar majalah mini yang barusan dikirim Pak Pos dari Jakarta. Nama majalahnya Suara Mahasiswa, biasa disingkat SuMa, terbitan pers mahasiswa UI Jakarta. Bersama SuMa ku tandaskan hasrat mengabdi pada tanah air tercinta. Mak brut!!! Merdeka!

 

Selepas ujian, sejenak hibur diri dengan nonton film di VCD. Judulnya Cintapuccino. Kisah adaptasi dari novel berjudul sama. Bintangnya yang kenal cuma Sissy Priscillia yang bahenol abis. Filmnya tak seasik novel. Garing banget. Apalagi di akhir cerita dapet bonus macet. Dasar film sewaan. Promonya original eh malah suka macet kaya sundal. Bukannya tambah seger, kepala makin pening. Badan kerempengku minta bobo (lagi). Kali ini di depan televisi dengan posisi yang nggak banget.

 

15 menit sebelum tukang teriak masjid koar-koar. Bangun-bangun ada 4 SMS masuk. Salah satunya dari Maya. “dEe,…” Bengong. Isinya gitu doang. Namun, SMS tujuh karakter tersebut bikin ingat kalau ada janji buka puasa bareng sore ini. Habis bengong, terbitlah panik. Inginnya bergegas eh, malah badan meriang lagi. Kali ini campur lemes kaya Maya kalau lagi datang bulan. Dengan berat hati ku telpon Maya. “Eh,…sory buka barengnya besok aja yawh..gi gak enak badan kie..sory. g papa kan?”  Terus aku SMS biar mantep. Eh, ternyata tuh anak cuman bales, “iy, ndak papa…” Asem kie…! [  ]